Mendengar dengan Empati, Berpendapat dengan Tanggung Jawab
Pada akhirnya, tujuh contoh komentar yang diamati bukanlah gambaran keseluruhan respons masyarakat di media sosial. Data tersebut hanya menunjukkan sebagian bentuk bahasa yang muncul dalam percakapan mengenai kasus dugaan pelecehan di salah satu pesantren di Lombok. Meski terbatas, contoh tersebut mengingatkan kita bahwa pilihan kata memiliki pengaruh terhadap cara sebuah peristiwa dipahami dan ditanggapi.
Media sosial seharusnya tidak hanya menjadi tempat untuk meluapkan emosi, tetapi juga ruang untuk membangun kepedulian dan mendorong perubahan. Kita tidak harus berhenti berpendapat ketika menghadapi persoalan yang menyangkut rasa keadilan. Sebaliknya, kita perlu belajar menyampaikan pendapat secara kritis tanpa kehilangan empati.
Di balik riuhnya media sosial, ada suara yang perlu didengarkan dengan sungguh-sungguh. Ada pihak yang membutuhkan dukungan, ada persoalan yang memerlukan penanganan serius, dan ada masyarakat yang perlu belajar menggunakan bahasa secara bertanggung jawab. Karena itu, sebelum mengetik dan menekan tombol kirim, marilah kita ingat bahwa setiap kata memiliki dampak. Kepedulian bukan sekadar tentang seberapa keras kita berbicara, melainkan juga tentang bagaimana kita menjaga martabat manusia melalui kata-kata yang kita pilih.
Penulis:
Aisah, Mahasiswa Pendidikan Bahasa Indonesia, FPSH, Universitas Muhammadiyah Malang.
