Opini  

Akreditasi Naik, Ruh Pendidikan Menurun?

Heri Isnaini.

Akreditasi seharusnya menjadi cermin, bukan panggung pertunjukan. Ia mestinya menjadi konsekuensi dari proses pendidikan yang sehat, bukan target yang menguras seluruh energi sekolah. Ketika guru memiliki waktu untuk mendampingi murid, ketika kelas menjadi ruang dialog yang hidup, ketika peserta didik tumbuh menjadi pribadi yang jujur, berani, dan peduli, pada saat itulah mutu pendidikan sesungguhnya sedang dibangun. Predikat unggul hanyalah buah yang akan mengikuti.

Sebab itu, pertanyaan yang layak kita ajukan bukan lagi, “Berapa nilai akreditasi sekolah ini?” Melainkan, “Apakah anak-anak merasa bahagia belajar di dalamnya?” Apakah mereka pulang membawa rasa ingin tahu yang semakin besar? Apakah mereka menjadi manusia yang lebih jujur daripada sebelumnya? Apakah mereka belajar menghargai orang lain. Sebab pada akhirnya, sejarah tidak pernah dibangun oleh dokumen. Sejarah dibangun oleh manusia.

Barangkali, di situlah pendidikan menemukan maknanya yang paling hakiki. Kita boleh memiliki sekolah dengan gedung yang megah, administrasi yang sempurna, dan akreditasi tertinggi. Namun, apabila ruang-ruang kelas kehilangan percakapan, kehilangan empati, dan kehilangan keteladanan, kita sesungguhnya sedang membangun bangunan yang indah dengan pondasi yang rapuh. Akreditasi memang dapat naik setiap beberapa tahun. Namun, ruh pendidikan hanya akan tumbuh jika guru masih memiliki waktu untuk menjadi manusia bagi murid-muridnya.

Exit mobile version