Pada suatu malam di sebuah desa di Jawa Barat, seorang kakek bercerita kepada cucunya tentang hutan yang tidak boleh dimasuki setelah magrib. Di hutan itu, katanya, ada perempuan berambut panjang yang sesekali menampakkan diri di bawah pohon besar. Beberapa kilometer dari desa tersebut, seorang remaja sedang membaca novel horor yang menghadirkan sosok perempuan misterius dengan rambut panjang yang menghantui sebuah rumah tua. Di tempat lain lagi, seorang penonton menikmati film yang menampilkan kuntilanak, pocong, atau makhluk gaib lain yang muncul dari ruang-ruang gelap.
Sekilas, ketiga peristiwa itu tampak berbeda. Yang pertama adalah cerita lisan, yang kedua novel modern, dan yang ketiga film kontemporer. Namun, jika dicermati lebih dalam, semuanya sebenarnya berbicara tentang hal yang sama, yaitu mitos. Kita hidup di zaman yang sering menyebut dirinya modern. Teknologi berkembang dengan cepat, kecerdasan buatan mulai mengubah cara manusia bekerja, dan informasi bergerak melintasi dunia dalam hitungan detik. Namun anehnya, di tengah modernitas itu, manusia masih menyukai cerita tentang hantu, makhluk gaib, kerajaan bawah laut, dan tokoh-tokoh sakti yang melampaui batas kemampuan manusia biasa. Mengapa?.
Pertanyaan ini membawa saya pada pemikiran Northrop Frye dalam Anatomy of Criticism (1957). Frye berpendapat bahwa sastra dibangun oleh pola-pola arketipal yang terus berulang dalam berbagai bentuk. Ia menulis bahwa sastra merupakan sebuah order of words, sebuah tatanan imajinasi yang saling terhubung melalui simbol, mitos, dan arketipe. Dalam pandangan Frye, mitos tidak pernah benar-benar hilang. Ia hanya berganti pakaian.
