Opini  

Tiga Belas Menit Terakhir dan Tujuh Hari yang Dilupakan

Heri Isnaini.

Barangkali persoalan ini tidak hanya hidup di kampus. Kita menemukannya di mana-mana. “Saya terlambat karena macet.” “Laporan belum selesai karena datanya belum masuk.” “Program tidak berjalan karena anggarannya terbatas.” “Buku saya belum selesai karena sedang banyak pekerjaan.”

Selalu ada sesuatu di luar diri kita. Macet. Data. Anggaran. Pekerjaan. Sinyal. Listrik. Dunia memang menyediakan banyak sekali kata benda yang dapat kita jadikan alasan. Hanya satu kata yang sering kita sembunyikan. Saya.

Pagi itu, setelah membaca dua pesan mahasiswa, saya tidak langsung berpikir tentang nilai. Saya justru memikirkan bahasa. Mungkin pendidikan karakter tidak selalu dimulai dari seminar besar tentang integritas. Tidak pula dari spanduk-spanduk yang dipasang di lorong kampus dengan huruf kapital dan tanda seru. Mungkin ia dimulai dari keberanian memperbaiki satu kalimat. Bukan: “Saya terlambat karena sinyal bermasalah.” Melainkan: “Saya terlambat karena mengunggah terlalu dekat dengan tenggat. Ketika sinyal bermasalah, saya tidak memiliki cukup waktu untuk memperbaikinya.”

Sinyalnya tetap buruk. Listrik mungkin tetap padam. Google Classroom tetap menutup pintu pukul delapan. Tidak ada fakta yang berubah. Tetapi ada satu hal yang kembali ke tempatnya. Tanggung jawab.

Dan mungkin, di antara begitu banyak teori pendidikan yang kita bicarakan dengan istilah-istilah besar, kita perlu kembali mengajarkan satu pelajaran kecil tentang tata bahasa kehidupan. Bahwa kadang-kadang, subjek yang paling sulit kita tuliskan dalam kalimat kesalahan adalah diri kita sendiri. Saya.

Exit mobile version