Yang membuat saya berpikir justru sesuatu yang sederhana, Mengapa cerita selalu dimulai dari tiga belas menit terakhir? Ke mana perginya tujuh hari sebelumnya? Senin, barangkali, sedang sibuk. Selasa mungkin lupa. Rabu memiliki urusannya sendiri. Kamis berjalan terlalu cepat. Jumat merasa masih ada waktu. Sabtu dan Minggu, kita tahu, sering dianggap memiliki hak istimewa untuk tidak memikirkan tugas.
Lalu tibalah pagi terakhir. Pukul 07.50. Pada saat itulah sinyal tiba-tiba mendapat peran utama. Saya teringat pada cara kita membaca cerita. Dalam sastra, titik awal bukan perkara sepele. Seorang pengarang dapat memulai cerita dari mayat yang ditemukan di sungai, lalu perlahan membawa pembaca mundur pada kehidupan seseorang sebelum menjadi mayat. Pengarang lain mungkin memulai cerita dari masa kanak-kanak tokohnya. Ceritanya bisa sama, tetapi cara kita memahami tokohnya mungkin berbeda.
Erving Goffman (1922–1982), seorang sosiolog dan psikolog sosial terkemuka. Ia sangat dikenal sebagai pencetus teori dramaturgi, sebuah konsep yang menganalogikan interaksi sosial manusia dengan pertunjukan teater di atas panggung, menyebut cara manusia mengorganisasi pengalaman melalui sebuah bingkai sebagai frame. Kita tidak pernah melihat seluruh kenyataan sekaligus. Kita memilih bagian tertentu, sadar atau tidak, lalu berkata: “Lihatlah dari sini.”
Pesan mahasiswa itu, saya kira, sedang berkata kepada saya, lihatlah dari pukul 07.50.
