Opini  

Tiga Belas Menit Terakhir dan Tujuh Hari yang Dilupakan

Heri Isnaini.

Maka, ketika seseorang berkata, “Ini tanggung jawab saya,” ia sedang melakukan sesuatu yang lebih besar daripada menyusun kalimat. Ia sedang mengambil kembali dirinya dari tangan keadaan. Meski demikian, saya masih memiliki pertanyaan kepada mahasiswa kedua. Listrik padam pagi itu. Tetapi tugas diberikan tujuh hari sebelumnya.

Mati listrik menjelaskan mengapa Wi-Fi tidak berfungsi pagi itu. Ia tidak menjelaskan mengapa file belum dikirim kemarin. Atau dua hari sebelumnya. Atau lima hari sebelumnya. Kita sering keliru membedakan penyebab dengan peristiwa terakhir. Bayangkan seseorang berangkat ke bandara tiga puluh menit sebelum pesawatnya terbang. Di jalan ia terjebak kemacetan. Ia terlambat. “Macet,” katanya. Benar. Jalan memang macet. Tetapi mungkin persoalannya bukan hanya kemacetan. Mungkin ia berangkat terlalu dekat dengan waktu penerbangan.

Sinyal yang hilang selama sepuluh menit tidak akan menjadi tragedi jika tugas dikirim dua hari sebelumnya. Listrik yang padam pukul tujuh pagi tidak akan menjadi tokoh antagonis jika file telah diunggah malam sebelumnya. Kadang-kadang, keadaan tidak menciptakan kegagalan. Keadaan hanya membuka kain penutup dari keputusan-keputusan yang sebelumnya kita anggap sepele.

Saya pun bukan manusia yang selalu tepat waktu. Ada tulisan yang saya tunda. Ada pesan yang lupa saya balas. Ada pekerjaan yang saya simpan sambil berkata dalam hati: nanti.

Kata “nanti” adalah salah satu kata paling berbahaya dalam bahasa Indonesia. Ia pendek. Hanya lima huruf. Tetapi dapat menyimpan pekerjaan selama berhari-hari.

Exit mobile version