Beberapa waktu lalu saya menguji mahasiswa pada sidang skripsi. Ketika saya bertanya tentang konsep dasar yang sebenarnya sudah dipelajari selama beberapa semester, salah seorang mahasiswa hanya terdiam. Wajahnya tegang. Ia kemudian berkata pelan, “Maaf, Pak. Saya memang tidak pintar berbicara.”
Kalimat itu membuat saya lebih tertarik daripada jawaban yang gagal ia berikan. Mengapa seorang mahasiswa yang telah berhasil menyelesaikan penelitian justru begitu mudah menyimpulkan dirinya “tidak pintar”? Saya menduga, kalimat itu bukan lahir pada hari itu. Ia adalah hasil dari percakapan panjang yang terus diulang dalam pikirannya. Mungkin berasal dari komentar guru semasa sekolah, perbandingan dengan teman, atau bahkan dari dirinya sendiri yang berkali-kali mengatakan, “Saya tidak bisa.”
Sejak saat itu saya semakin yakin bahwa manusia tidak hanya hidup di dalam dunia yang dipenuhi kata-kata, tetapi juga dibentuk olehnya. Bahasa bukan sekadar alat untuk menyampaikan pikiran. Bahasa adalah ruang tempat pikiran itu tumbuh.
Gagasan ini sesungguhnya bukan hal baru. Psikolog Rusia, Lev Vygotsky (1896–1934), menjelaskan bahwa bahasa memiliki peran penting dalam perkembangan berpikir manusia. Menurutnya, percakapan yang semula terjadi dengan orang lain perlahan berubah menjadi percakapan batin. Kita belajar memahami dunia melalui bahasa, kemudian menggunakan bahasa yang sama untuk memahami diri sendiri. Dengan kata lain, cara kita berbicara kepada orang lain lambat laun menjadi cara kita berbicara kepada diri sendiri.
