Perubahan akhirnya menjadi sesuatu yang selalu direncanakan, tetapi jarang dijalani. Saya melihat gejala ini hampir setiap hari di ruang kelas. Banyak mahasiswa memiliki gagasan yang baik. Mereka dapat menjelaskan teori dengan lancar. Mereka memahami langkah-langkah penelitian. Mereka mengetahui bagaimana menulis artikel ilmiah yang baik. Akan tetapi, ketika tiba saatnya benar-benar menulis, muncul berbagai alasan. Referensi belum cukup. Laptop kurang mendukung. Waktu belum memungkinkan. Ide belum matang. Padahal sering kali yang belum matang bukan idenya, melainkan keberanian untuk memulai.
Budaya akademik kita perlahan berubah menjadi budaya persiapan tanpa keberangkatan. Orang sibuk mengumpulkan perangkat untuk berjalan, tetapi lupa berjalan. Di titik inilah Musyawarah Burung terasa sangat kontemporer. Attar seakan memahami sesuatu yang hari ini oleh psikologi modern disebut sebagai procrastination. Penundaan bukan semata-mata persoalan manajemen waktu. Penundaan sering kali merupakan mekanisme pertahanan diri. Seseorang menunda bukan karena malas, melainkan karena takut menghadapi kemungkinan gagal. Maka alasan menjadi tempat berlindung yang paling nyaman. Alasan memberi ilusi bahwa kita masih bergerak, padahal sebenarnya kita sedang diam.
Hudhud, pemimpin rombongan burung, tidak membantah alasan-alasan itu dengan kemarahan. Ia justru memperlihatkan bahwa setiap alasan sesungguhnya adalah bentuk keterikatan. Bulbul terikat pada keindahan yang sementara. Merak terikat pada nostalgia. Nuri terikat pada keinginan hidup abadi. Itik terikat pada kebiasaan. Tidak ada satu pun yang benar-benar bebas.
