Saya kira inilah pelajaran yang sering luput ketika Musyawarah Burung dibaca hanya sebagai alegori tasawuf. Yang sedang dipersoalkan Attar bukan sekadar dosa atau kelemahan manusia, melainkan cara manusia membangun identitasnya melalui keterikatan. Kita sering mengira bahwa kita sedang mempertahankan sesuatu yang penting, padahal sesungguhnya sesuatu itulah yang sedang mempertahankan kita agar tidak berubah.
Fenomena ini juga tampak dalam kehidupan sosial kita. Banyak orang mengeluhkan keadaan, tetapi merasa nyaman berada di dalamnya. Mereka mengkritik sistem pendidikan, tetapi enggan mengubah cara mengajar. Mereka menginginkan masyarakat yang gemar membaca, tetapi rumah mereka sendiri tidak memiliki rak buku. Mereka berharap lahir generasi kreatif, tetapi masih mengukur keberhasilan dengan kemampuan menghafal.
Dalam kebudayaan Indonesia, musyawarah sering dipahami sebagai proses mencari mufakat. Menariknya, Attar menggunakan musyawarah dengan cara yang berbeda. Burung-burung memang berkumpul, tetapi musyawarah itu bukan untuk menentukan siapa yang benar. Musyawarah menjadi ruang bagi setiap burung memperlihatkan wajah egonya sendiri. Semakin lama mereka berbicara, semakin jelas bahwa lawan terbesar mereka bukanlah perjalanan menuju Gunung Kaf, melainkan diri mereka masing-masing.
Di sinilah sastra bekerja dengan cara yang tidak dapat dilakukan oleh ceramah atau pidato. Sastra tidak memaksa pembaca menerima kesimpulan tertentu. Ia mengajak pembaca mengenali dirinya sendiri. Ketika membaca alasan Bulbul, mungkin kita sedang membaca diri kita yang terlalu mencintai kenyamanan. Ketika membaca Merak, mungkin kita sedang membaca diri kita yang terlalu sibuk mengenang masa lalu. Ketika membaca Itik, mungkin kita sedang membaca diri kita yang terlalu yakin bahwa dunia yang kecil sudah cukup luas untuk dijelajahi.
