Opini  

Ketika Sastra Menjadi Jalan Berfilsafat

Heri Isnaini.

Paul Ricoeur pernah menunjukkan bahwa metafora bukanlah hiasan bahasa. Metafora adalah cara baru melihat dunia. Melalui metafora, bahasa melahirkan kemungkinan-kemungkinan makna yang sebelumnya tidak kita sadari. Hans-Georg Gadamer mengingatkan bahwa setiap pembacaan adalah dialog antara teks, tradisi, dan pembaca. Tidak ada penafsiran yang lahir di ruang hampa. Sementara itu, Toshihiko Izutsu memperlihatkan bahwa istilah-istilah dalam Al-Qur’an membentuk suatu jaringan makna yang mencerminkan pandangan hidup Islam. Ketiga pemikir ini, meskipun berasal dari tradisi yang berbeda, bertemu pada satu keyakinan, yaitu bahawa bahasa bukan sekadar alat komunikasi, melainkan ruang tempat manusia membangun pemahamannya tentang dunia.

Tradisi filsafat Islam telah lama memperlihatkan hal itu. Al-Farabi berbicara tentang hubungan bahasa, logika, dan akal. Ibn Sina menjelaskan bahwa pengetahuan tidak berhenti pada pengalaman indrawi, tetapi bergerak menuju pemahaman intelektual. Al-Ghazali menunjukkan bahwa rasio memiliki peran penting, tetapi perlu disempurnakan oleh penyucian batin. Suhrawardi menghadirkan filsafat iluminasi yang menempatkan cahaya sebagai metafora pengetahuan. Puncaknya, Mulla Ṣadra merumuskan bahwa realitas adalah sesuatu yang dinamis (keberadaan bukan benda yang beku), melainkan proses yang terus bergerak. Membaca para filsuf itu membuat saya semakin yakin bahwa bahasa, simbol, dan pengalaman spiritual tidak pernah dapat dipisahkan.

Exit mobile version