Opini  

Gaji Guru Honorer, Cermin Pendidikan

Putri Asna Zulfa.

Komentar “guru: banyak dituntut, gaji kek kentut” dan “honor apa horor” memperlihatkan bagaimana bahasa sehari-hari dapat menjadi cermin keresahan mengenai kesejahteraan guru. Kedua komentar tersebut tidak mewakili seluruh pengalaman guru honorer, tetapi menunjukkan bahwa persoalan ini mendapat perhatian dalam percakapan digital. Tantangannya adalah mengubah perhatian tersebut menjadi evaluasi dan perbaikan kebijakan yang nyata. Menghargai guru berarti memperhatikan kesejahteraan, kepastian kerja, dan perlindungan mereka demi masa depan pendidikan Indonesia.

Penulis:

Putri Asna Zulfa, Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, FPSH, Universitas Muhammadyah Malang.

Exit mobile version