Opini  

Coercive Control: Ketika Bahasa Menjadi Penjara dan Cinta Kehilangan Makna

Ilustrasi: Foto Gemini AI.

Di Inggris, pembunuhan terhadap Sally Challen oleh suaminya justru mengubah cara hukum memandang kekerasan domestik. Selama puluhan tahun Sally hidup dalam pengendalian psikologis yang intens. Ketika kasusnya ditinjau ulang, pengadilan mempertimbangkan bahwa kekerasan psikologis yang berlangsung lama memiliki dampak yang sangat besar terhadap kondisi mental korban. Perdebatan publik atas kasus ini ikut mendorong pengakuan yang lebih luas terhadap coercive control sebagai bentuk kekerasan yang serius. Kasus-kasus tersebut menunjukkan satu pola yang sama. Sebelum tubuh dikendalikan, pikiran lebih dahulu dikurung.

Sebagai dosen bahasa dan sastra, saya justru melihat bahwa persoalan ini mengingatkan kita pada kekuatan bahasa yang sering diremehkan. Dalam teori Norman Fairclough, bahasa tidak pernah netral. Bahasa selalu membawa relasi kuasa. Siapa yang boleh berbicara? Siapa yang harus diam? Siapa yang menentukan makna? Semua itu adalah persoalan kekuasaan.

Dalam hubungan yang sehat, dialog berlangsung dua arah. Dalam coercive control, dialog berubah menjadi monolog. Pelaku berbicara. Korban mendengar. Pelaku menentukan makna. Korban menerimanya. Pelaku mengatakan apa yang benar. Korban kehilangan hak untuk mempercayai pengalamannya sendiri.

Tidak mengherankan jika kemudian muncul fenomena “gaslighting.” Ketika korban berkata, “Kamu menyakitiku,” pelaku menjawab, “Kamu terlalu sensitif.” Ketika korban mengingat suatu peristiwa, pelaku berkata, “Itu tidak pernah terjadi.” Lama-kelamaan, korban tidak lagi percaya pada ingatannya sendiri. Ia meminjam kesadaran pelaku untuk memahami kenyataan. Bahasa, dalam kondisi seperti ini, tidak lagi menjadi alat komunikasi. Bahasa berubah menjadi alat kolonisasi batin.

Exit mobile version