Opini  

Cancel Culture dan Bahasa yang Baik dalam Ruang Publik

Heri Isnaini.

Cancel culture juga menyasar institusi dan merek. Pada 2022, merek kecantikan Votre Peau menghadapi kritik setelah konten internal bertajuk best dress challenge dipersepsikan sebagian warganet sebagai tindakan yang tidak menghormati Islam dan perempuan. Kontroversi tersebut berkembang menjadi seruan boikot. Kasus ini memperlihatkan bahwa komunikasi merek tidak dapat dilepaskan dari nilai sosial yang hidup di tengah masyarakat. Dalam ruang digital, pesan yang dibuat untuk konsumsi internal sekalipun dapat beredar lebih luas dan ditafsirkan di luar konteks awalnya. Klarifikasi atau permintaan maaf menjadi bagian dari komunikasi krisis, tetapi efektivitasnya sangat bergantung pada apakah publik melihat adanya pengakuan terhadap masalah dan perubahan yang nyata.

Pada 2025, kontroversi yang melibatkan pengulas kuliner Codeblu dan toko roti Clairmont juga memunculkan seruan boikot di media sosial. Persoalan tersebut berkaitan dengan klaim mengenai kue kedaluwarsa yang disebut diberikan kepada panti asuhan. Dalam perkembangan kontroversi, Codeblu menyampaikan permintaan maaf dan mengakui adanya persoalan pada sumber informasi yang digunakan serta dampak yang ditimbulkan. Kasus ini menjadi pengingat bahwa kritik publik, terutama yang disampaikan oleh figur dengan pengikut besar, perlu ditopang oleh verifikasi. Informasi yang belum diperiksa secara memadai dapat menyebar luas dan memengaruhi reputasi pihak lain sebelum seluruh fakta menjadi jelas.

Exit mobile version