Generasi yang tumbuh dengan layar di tangan, dengan isi yang berubah dalam sekejap, tidak akan dengan sendirinya berhenti dan duduk menyaksikan pertunjukan berdurasi panjang dengan gerakan yang rumit. Pak Handoyo paham betul soal ini. daripada mempertahankan bentuk yang membuat orang kabur, ia memilih untuk menyesuaikan cara belajarnya.
Kalau dulu satu tarian bisa berdurasi 30 menit dengan gerakan yang sangat sulit, kini ia membuat metode baru dengan tiga menit, lima menit, bahkan tiga puluh detik dengan gerakan yang lebih mudah dipelajari. tujuannya satu adalah supaya anak-anak tidak cepat bosan dan mau terus belajar.
Dan cara itu berhasil. Di pandepokan yang ia kelola, ada empat program yang berjalan yaitulatihan menari, karawitan, membuat topeng, dan pertunjukan rutin sebulan sekali. Antusiasme anak-anak di sana, kata Pak Handoyo, luar biasa. Permintaan untuk tampil di pameran juga masih banyak. Ini penting untuk digarisbawahi adalah menyesuaikan metode bukan berarti mengkhianati tradisi. Justru sebaliknya itulah cara tradisi itu tetap berhubungan dan tidak mati dimakan zaman. Yang berbahaya bukan perubahan, melainkan ketidakmauan untuk berubah sama sekali.
Namun ada satu hal yang Pak Handoyo sampaikan dan rasanya perlu mendapat perhatian lebih yaitu peminat tari memang masih ada dan cukup banyak, tapi bagian lain dalam lingkungan pertunjukan Topeng Malangan mulai menghilang. Pemusik gamelan semakin berkurang. Sinden penyanyi tradisional Jawa semakin jarang. Dan yang paling mengkhawatirkan adalah dalang, sang narator yang menjalankan seluruh alur cerita dalam pertunjukan. Itulah yang sekarang paling sulit dicari.
