Jakarta – Pelemahan nilai tukar rupiah yang terus berlanjut memunculkan kekhawatiran baru di kalangan pelaku pasar dan ekonom. Setelah bergerak di atas level Rp18.185 per dolar Amerika Serikat (AS) pada 8 Juni 2026, sejumlah pengamat menilai tekanan terhadap mata uang Garuda masih berpotensi berlanjut apabila ketidakpastian global tidak mereda.
Jika rupiah melemah hingga menyentuh Rp18.200 per dolar AS, dampaknya diperkirakan tidak hanya dirasakan oleh pelaku usaha, tetapi juga masyarakat luas melalui kenaikan harga berbagai kebutuhan sehari-hari.
Ekonom menilai sektor yang pertama kali merasakan tekanan adalah industri yang bergantung pada bahan baku impor. Kenaikan nilai dolar membuat biaya impor bahan baku menjadi lebih mahal. Akibatnya, perusahaan harus mengeluarkan biaya produksi yang lebih tinggi untuk mempertahankan kegiatan usahanya.
Kondisi tersebut pada akhirnya berpotensi mendorong kenaikan harga barang di tingkat konsumen. Produk elektronik, telepon seluler, komputer, suku cadang kendaraan, alat kesehatan, hingga obat-obatan diperkirakan menjadi kelompok barang yang paling rentan mengalami kenaikan harga.
Selain itu, pelemahan rupiah juga dapat meningkatkan tekanan inflasi nasional. Ketika harga barang impor naik, biaya distribusi dan produksi ikut meningkat. Dampaknya, harga berbagai kebutuhan masyarakat dapat mengalami penyesuaian dalam waktu relatif singkat.
Tekanan terhadap daya beli masyarakat menjadi risiko berikutnya. Dengan pendapatan yang relatif tetap, masyarakat harus mengeluarkan biaya lebih besar untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Kelompok berpenghasilan rendah dan menengah diperkirakan menjadi pihak yang paling terdampak oleh kondisi tersebut.
