“Masih banyak pasien yang baru datang berobat ketika kondisinya sudah cukup berat. Padahal, apabila ditemukan lebih awal, peluang sembuh jauh lebih besar dan risiko penularan kepada keluarga maupun lingkungan sekitar juga bisa dicegah,” jelasnya.
Winarti juga menyoroti tantangan lain dalam penanggulangan TB, yakni masih adanya pasien yang menghentikan pengobatan sebelum waktunya atau drop out. Padahal, pengobatan TB harus dijalani secara disiplin sesuai anjuran dokter spesialis.
“Pengobatan TB membutuhkan komitmen yang tinggi. Ada pasien yang harus minum obat selama enam bulan, sembilan bulan, bahkan sampai satu tahun, tergantung kondisi penyakitnya. Obat harus diminum setiap hari dan tidak boleh terputus. Jika pasien berhenti di tengah jalan, bukan hanya berisiko kambuh, tetapi juga dapat menyebabkan kuman menjadi kebal terhadap obat atau TB resisten obat,” tegasnya.
Menurut Winarti, kegiatan SSTB yang dilaksanakan Puskesmas Tanjung Bumi merupakan bagian dari implementasi program FCSDS Expansion, yang bertujuan menurunkan angka kesakitan dan kematian akibat tuberkulosis di kabupaten/kota dengan beban kasus tinggi.
Program tersebut tidak hanya berfokus pada peningkatan penemuan kasus melalui pendekatan berbasis komunitas, tetapi juga memperkuat pelayanan TB dan TB Resisten Obat (TB RO), mulai dari diagnosis, pengobatan, hingga memastikan pasien menyelesaikan terapi secara tuntas.
“Kami ingin memastikan setiap pasien yang terdiagnosis tidak hanya mendapatkan pengobatan, tetapi juga didampingi hingga benar-benar sembuh. Dengan demikian angka putus berobat bisa ditekan, keberhasilan pengobatan meningkat, dan rantai penularan TB di masyarakat dapat diputus,” ungkap Winarti.
