Mojokerto – Sejumlah pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di pasar tradisional Mojokerto mengaku resah dengan hadirnya program penjualan sembako Koperasi Desa Merah Putih (KDKMP) yang menawarkan harga jauh di bawah harga pasaran.
Kondisi ini dinilai berdampak langsung terhadap penurunan omzet pedagang kecil yang selama ini menggantungkan hidupnya dari penghasilan dan penjualan kebutuhan pokok masyarakat yang bertahun-tahun berjalan.
Para pedagang menilai harga yang ditawarkan terlalu rendah dan sulit diikuti oleh pedagang pasar tradisional. Beberapa komoditas seperti minyak goreng dan LPG melon disebut dijual lebih murah dibanding harga kulakan pedagang.
Arif, pemilik toko sembako di Mojokerto, mengungkapkan keresahannya atas kondisi tersebut. “Kami pelaku UMKM di pasar tradisional merasa sangat terdampak dengan harga sembako KDKMP yang jauh di bawah harga pasaran. Harga minyak dijual Rp15.500 dan LPG melon Rp16 ribu, sedangkan kami kulakannya saja tidak dapat harga segitu. Pembeli jadi beralih karena selisih harga cukup besar, sementara kami tetap harus memikirkan modal dan biaya operasional,” ujarnya.
Sementara itu, Taufik, pegiat demokrasi dan sosial, meminta pemerintah segera mengevaluasi mekanisme penjualan agar tidak merugikan pedagang kecil di pasar tradisional.
“Program bantuan untuk masyarakat tentu baik, tetapi pemerintah juga harus memikirkan nasib UMKM pasar. Jika harga yang dijual terlalu rendah dan tidak wajar dibanding harga kulakan pedagang, maka pasar tradisional bisa semakin sepi. Harus ada solusi yang adil supaya masyarakat terbantu dan pedagang kecil tetap bisa bertahan,” katanya.
