Opini  

Mimikri: Menjadi Hampir Sama, tetapi Tak Pernah Serupa

Heri Isnaini.

Dalam konteks pendidikan, persoalan ini menjadi semakin penting. Sekolah bukan hanya tempat siswa memperoleh pengetahuan, tetapi juga ruang tempat mereka membangun identitas. Jika pendidikan hanya mengajarkan siswa untuk menerima sesuatu karena dianggap modern, maju, atau berasal dari kebudayaan yang lebih dominan, pendidikan sebenarnya sedang mengajarkan mimikri tanpa refleksi.

Sebaliknya, pendidikan perlu mengajarkan kemampuan berdialog dengan kebudayaan lain. Siswa perlu mengetahui bahwa kebudayaan asing dapat menjadi sumber pengetahuan tanpa harus menjadi ukuran tunggal bagi kemajuan. Mereka perlu belajar membedakan antara mengadopsi, mengadaptasi, dan sekadar meniru. Mereka perlu memahami bahwa identitas bukan tembok yang harus menolak segala sesuatu dari luar, tetapi juga bukan ruang kosong yang dapat diisi oleh apa saja.

Identitas lebih menyerupai proses meramu. Ada sesuatu yang datang dari luar, sesuatu yang telah tumbuh dari dalam, lalu keduanya bertemu dan menghasilkan bentuk baru. Dalam proses tersebut, seseorang tidak kehilangan dirinya justru karena ia berani berjumpa dengan yang lain. Sebaliknya, ia menemukan dirinya melalui kemampuan untuk memilih, mengolah, dan memberi makna baru terhadap apa yang diterimanya.

Mimikri, dengan demikian, tidak harus selalu dibaca sebagai persoalan tentang siapa yang asli dan siapa yang tiruan. Pertanyaan semacam itu terlalu sederhana untuk menjelaskan kebudayaan yang terus berubah. Yang lebih penting adalah melihat bagaimana tiruan tersebut diproduksi, untuk kepentingan siapa, nilai apa yang dibawanya, dan bagaimana ia dinegosiasikan dengan identitas yang sudah ada.

Exit mobile version