Opini  

Mendidik Generasi Alfa dengan Perhatian yang Terdistraksi

Heri Isnaini.

Membaca karya sastra yang kompleks, misalnya, membutuhkan ketekunan untuk bertahan pada teks, memahami konteks, menghubungkan gagasan, membuat inferensi, dan memikirkan kembali apa yang telah dibaca. Proses semacam itu tidak selalu memberikan kesenangan secara instan, tetapi justru dapat menghasilkan pemahaman yang lebih dalam.

Maryanne Wolf (seorang neurosaintis kognitif, pakar literasi dunia, dan profesor di UCLA) melalui kajiannya mengenai deep reading, mengingatkan bahwa membaca secara mendalam membutuhkan waktu, perhatian, dan proses kognitif yang kompleks. Dalam lingkungan digital yang mendorong skimming, perpindahan cepat, dan multitasking, proses-proses tersebut menghadapi tantangan yang semakin besar.

Bagi Wolf, persoalannya bukan bahwa manusia tidak dapat membaca secara mendalam melalui medium digital, melainkan bahwa lingkungan digital membuat perhatian lebih mudah terpecah dan mendorong kebiasaan mencari informasi secara cepat. Gagasan Wolf membantu kita memahami bahwa persoalan yang terjadi di dalam kelas sesungguhnya lebih besar daripada seorang siswa yang membuka gim ketika guru sedang mengajar. Kita sedang berhadapan dengan perubahan ekologi perhatian.

Siswa yang tumbuh dalam dunia digital hidup dalam lingkungan yang terus menawarkan sesuatu untuk diperhatikan. Ketika sebuah video terasa membosankan, tersedia video berikutnya. Ketika sebuah percakapan tidak menarik, tersedia percakapan lain. Ketika sebuah permainan mulai kehilangan daya tarik, permainan lain dapat ditemukan. Kebudayaan digital membuat perpindahan perhatian menjadi sangat mudah.

Exit mobile version