Ekonom klasik Gustav Cassel melalui teori Purchasing Power Parity (PPP) menjelaskan bahwa nilai tukar dalam jangka panjang mencerminkan perbedaan daya beli antarnegara. Ketika tingkat inflasi dalam negeri lebih tinggi dibandingkan negara lain, daya beli mata uang domestik akan menurun sehingga nilai tukarnya cenderung melemah. Dengan kata lain, pelemahan mata uang sering kali menjadi cerminan adanya tekanan terhadap stabilitas harga di dalam negeri.
Di sisi lain, teori moneter yang dikembangkan Milton Friedman menjelaskan bahwa stabilitas ekonomi sangat dipengaruhi oleh pengelolaan jumlah uang beredar. Ketika ekspansi fiskal dan moneter tidak diimbangi oleh peningkatan produktivitas ekonomi, tekanan inflasi dapat meningkat dan pada akhirnya memengaruhi stabilitas nilai tukar.
Namun dalam dunia ekonomi modern, faktor yang memengaruhi nilai tukar tidak hanya berkaitan dengan inflasi dan jumlah uang beredar. Robert Lucas melalui teori Rational Expectations menjelaskan bahwa pelaku ekonomi bertindak berdasarkan ekspektasi mereka terhadap masa depan. Investor tidak hanya melihat kondisi ekonomi hari ini, tetapi juga menilai arah kebijakan pemerintah, kualitas institusi, serta keberlanjutan fiskal dalam jangka panjang.
Inilah mengapa nilai tukar sering kali menjadi indikator kepercayaan. Ketika investor meyakini bahwa suatu negara memiliki arah kebijakan yang jelas, tata kelola yang baik, serta kondisi fiskal yang sehat, mereka cenderung mempertahankan investasinya. Sebaliknya, ketika muncul ketidakpastian mengenai masa depan ekonomi, investor akan mencari aset yang dianggap lebih aman.
