Jakarta – Pergantian kepemimpinan Bank Indonesia (BI) dinilai menjadi momentum penting untuk memastikan kebijakan moneter tidak hanya berdampak pada pasar keuangan, tetapi juga dirasakan langsung oleh pelaku usaha di sektor riil.
Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga (Unair), Prof. Dr. Achsanul Qosasi, menilai calon Gubernur BI yang diusulkan Presiden Prabowo Subianto, Destry Damayanti, menghadapi pekerjaan rumah besar, terutama dalam memperkuat transmisi kebijakan moneter hingga ke tingkat usaha kecil dan mikro.
“Pertanyaan paling mendasar yang harus dijawab oleh pimpinan BI berikutnya adalah: sampai di mana kebijakan moneter itu berhenti?” ujar Achsanul, Kamis (13/8/2026).
Menurutnya, transmisi kebijakan moneter memiliki dua dimensi utama, yakni biaya (cost) dan akses (access). Dari sisi biaya, kebijakan suku bunga dapat memberikan dampak relatif cepat terhadap pasar keuangan dan stabilitas nilai tukar.
Namun, kondisi tersebut belum tentu diikuti dengan kemudahan akses pembiayaan bagi pelaku UMKM. Achsanul menyoroti adanya kesenjangan antara membaiknya sejumlah indikator makroekonomi dengan penyaluran kredit modal kerja kepada sektor usaha kecil.
“Sinyal biaya bekerja dengan cepat di pasar keuangan. Namun, sinyal akses bagi sektor usaha bawah justru tersendat. Ketika indikator makro tampak membaik, penyaluran kredit modal kerja untuk usaha kecil malah mengalami perlambatan. Di sinilah letak kemacetan transmisi moneter kita,” jelasnya.
