Kedua, mengutamakan akurasi dibanding kecepatan. Menurut Andikur, persaingan media digital sering memicu munculnya berita sensasional atau clickbait. Namun, kecepatan tidak boleh mengorbankan kebenaran informasi.
“Berita yang tidak akurat justru dapat menyesatkan masyarakat,” katanya.
Ketiga, menjaga independensi dan fungsi edukatif. Ia menegaskan, jurnalis harus berpijak pada fakta objektif, bukan opini pribadi ataupun kepentingan tertentu.
Dalam pemaparannya, Andikur juga menekankan bahwa kemampuan memahami jurnalistik akan melatih seseorang berpikir kritis sehingga mampu membedakan informasi yang valid dengan sekadar rumor.
“Jurnalistik itu ibarat pintu ilmu dan jendela dunia. Ketika kita menulis berdasarkan data yang benar dan riset yang kuat, kita membantu masyarakat melihat dunia dengan lebih jernih dan cerdas,” tuturnya.
Selain menjadi pembina dan penasihat JMP, Andikur Rahman memiliki pengalaman panjang di dunia pers. Ia merupakan Pimpinan Redaksi Kupaspojok.com, Sekretaris Media Nasional Beritalima.com, serta pernah menjadi Pengurus PWI Pamekasan Bidang Humas dan SIWO periode 2018–2026. Ia juga pernah menerima Piagam Jurnalistik PWI Jawa Timur dan Penghargaan Jurnalis dari Polda Jawa Timur pada 2023.
Melalui kegiatan ini, JMP berharap dapat melahirkan generasi muda yang tidak hanya menjadi konsumen informasi, tetapi juga mampu menghasilkan karya jurnalistik yang sehat, edukatif, berintegritas, dan bermanfaat bagi masyarakat.
