Cerpen  

Jakarta yang Terbakar, Helm yang Retak

Ilustrasi Demo 28 Agustus 2025

Ojek online tidak hanya pengantar makanan, juga pengantar perubahan.

SEJAK fajar 28 Agustus, tubuh-tubuh bermekaran di aspal, serupa bunga bangkai yang bermetamorfosa. Mereka datang bukan hanya karena rongga perut yang menganga, atau janji-janji yang sudah membusuk di telinga, tapi karena luka yang tak pernah diusap oleh tangan siapa pun.

Ojol dengan jaket hijaunya menjadi ladang yang menutupi jalanan, di antara mereka, pelajar STM berteriak, suaranya cempreng dan keras, seperti kaleng kosong yang dilempar. Mahasiswa, yang dulu katanya jantung kota ini, wajahnya seperti pantulan kaca yang retak, tak berani menatap. Suara mereka lenyap, ditelan gemuruh yang lebih tua dari mereka sendiri.

​Kata-kata melayang, serupa debu yang disapu angin. Keadilan. Rakyat. Pengkhianatan. Mereka pernah punya wujud, pernah punya roh. Sekarang hanya sisa-sisa busuk yang diperjualbelikan di baliho dan pidato para pengkhianat.

Affan, anak itu, pengemudi ojol, hanya ingin kembali ke rahim rumah. Ia terseret, tubuhnya hanya selembar daun yang tak tahu arah di sungai kotor. Helm hijaunya, basah oleh keringat dan debu, napasnya berat, seperti ia sedang memikul seluruh sejarah kota yang gamang ini. Ia hanya ingin pulang, bertemu ibunya yang sudah tak punya air mata. Tapi arus itu tak mengenal satu pun tubuh yang ingin lepas.

​Malam 28 Agustus, udara menjadi kain hitam beracun. Gas air mata merobek pandangan. Tameng Brimob, serupa tembok dari batu nisan, bergerak maju. Di sela-sela kegelapan, botol berisi bensin terbang, serupa burung dari api, hinggap di halte bus. Ia meledak. Api menjilat langit, mencium dosa-dosa yang baru saja lahir. Sosok bertopeng, pelakunya, berlari dan menghilang. Ia bukan pendemo. Ia bukan rakyat. Ia hanyalah bayangan yang digerakkan oleh jemari tak kasat mata.

Exit mobile version