Budaya  

Hari Jadi Rupiah, Jejak Pengorbanan Cakraningrat IV dari Madura yang Terlupakan

Ruipah koin, (Foto : Istimewa).

Menolak tunduk, Cakraningrat IV memproklamasikan kemerdekaan Madura dan menentang dominasi VOC, memicu Perang Madura yang berakhir tragis dengan jatuhnya Keraton Sambilangan pada 12 Februari 1745.

“Kejatuhan Sambilangan menandai berakhirnya kedaulatan politik dan ekonomi Madura, sekaligus membuka jalan bagi VOC meresmikan sistem moneter kolonial,” jelas Salman.

Ia menambahkan, koin emas VOC atau “Java Rupee” yang dicetak setelahnya bahkan meminjam simbol kekuasaan Mataram dengan menampilkan “Cap Susuhunan”, sebagai bentuk manipulasi simbol kedaulatan.

Salman menegaskan, perjuangan Cakraningrat IV merupakan fondasi moral bagi lahirnya Rupiah modern.

“Saat kita merayakan Hari Oeang, sejatinya kita sedang merayakan kembalinya hak bangsa untuk mencetak uang sendiri — hak yang telah dirampas sejak 1743,” tuturnya.

Hal senada disampaikan RM. Agus Suryoadikusumo, perwakilan Dinasti Keluarga Gusti Pangeran Cakraningrat IV.

“Pengorbanan beliau dan kejatuhan Sambilangan adalah titik awal hilangnya kedaulatan ekonomi bangsa. Maka perjuangan itu layak diakui sebagai bagian dari sejarah moneter Indonesia,” ujarnya.

Agus juga mengapresiasi riset Museum Uang Perusnia yang berhasil mengungkap keterkaitan historis antara tragedi Sambilangan dan lahirnya Rupiah.

“Rupiah yang kita gunakan hari ini adalah puncak dari perjuangan panjang. Mengenang Gusti Pangeran Cakraningrat IV adalah kewajiban moral agar bangsa ini tidak melupakan harga yang telah dibayar untuk kedaulatan,” tegasnya.

Exit mobile version