Opini  

Dari Dakwah ke Kekuasaan: Membaca Strategi Politik Nabi untuk Gerakan HMI

Aydil Fitri.

Pelajaran penting dari strategi Nabi adalah bahwa dakwah dan kekuasaan bukan dua hal yang saling bertentangan. Dakwah membentuk nilai, sedangkan kekuasaan menjaga serta mewujudkan nilai itu dalam kehidupan nyata. Ketika kekuasaan dipisahkan dari moralitas, ia mudah berubah menjadi alat kepentingan. Sebaliknya, idealisme tanpa keberanian masuk ke ruang pengambilan keputusan sering kali berhenti pada kritik dan wacana semata.

Dalam situasi Indonesia saat ini, HMI memiliki modal besar untuk menjalankan peran strategis tersebut. Sebagai organisasi dengan sejarah panjang, jaringan luas, dan tradisi intelektual yang kuat, HMI tidak cukup hanya hadir sebagai pengamat demokrasi atau pengkritik kebijakan publik. HMI dituntut mampu melahirkan kader yang siap memasuki berbagai sektor strategis, baik birokrasi, politik, akademik, maupun masyarakat sipil, tanpa kehilangan integritas moral dan semangat pengabdian.

Tantangan terbesar HMI di era politik yang cenderung pragmatis adalah menjaga idealisme ketika berada di lingkar kekuasaan. Sejarah menunjukkan bahwa banyak gerakan kehilangan arah ketika nilai perjuangan dikalahkan oleh kepentingan sesaat. Karena itu, kaderisasi HMI perlu terus menanamkan orientasi kepemimpinan yang berpijak pada etika, keberanian intelektual, dan visi kebangsaan.

Pada akhirnya, pelajaran terbesar dari Nabi Muhammad SAW adalah bahwa kemenangan sejati bukan diukur dari besarnya kekuasaan yang dimiliki, melainkan dari kemampuan menggunakan kekuasaan untuk menciptakan keadilan, persatuan, dan kemaslahatan.

Exit mobile version