“Bijaklah dalam bermedia sosial. Usia remaja cenderung labil dan mudah terpengaruh. Kadang karena ingin terlihat keren, muncul geng-gengan yang akhirnya ricuh antar kelompok,” tuturnya.
Dahlia menegaskan bahwa teknologi bukanlah penyebab utama, melainkan cara penggunanya yang perlu dikendalikan.
Selain penyampaian materi, kegiatan juga diisi dengan sesi tanya jawab yang melibatkan siswa untuk berbagi pengalaman terkait perundungan di lingkungan sekolah. Narasumber memberikan panduan praktis mengenai cara mengenali tanda-tanda korban bullying, jenis-jenis perundungan, serta langkah-langkah melapor atau menangani kasus yang terjadi.
Workshop ini menjadi bagian dari komitmen mahasiswa Asistensi Mengajar PBSI UTM untuk menanamkan nilai karakter santun, empati, dan tanggung jawab sosial di kalangan pelajar.
“Harapan kami, setelah kegiatan ini, siswa tidak hanya tahu apa itu bullying, tetapi juga berani bersikap dan menjadi pelopor anti-bullying di sekolah,” ujar Faqihudin di akhir acara.
